Bahasa Indonesia (pertemuan 4)
Pada pertemuan kali ini kami mempelajari tentang kaidah bahasa baku..
MATERI: KAIDAH BAHASA BAKU
1. Pengertian Bahasa Baku
Bahasa baku adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, seperti dalam pendidikan, pemerintahan, karya ilmiah, dan kegiatan keagamaan.
Bahasa ini mengikuti kaidah ejaan, tata bahasa, dan pilihan kata yang sesuai dengan norma bahasa Indonesia.
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, penggunaan bahasa baku penting untuk menulis karya ilmiah keislaman, menyampaikan dakwah yang santun, dan menjaga wibawa komunikasi akademik.
2. Tata Bahasa Baku
Tata bahasa baku mencakup aturan tentang struktur kalimat, morfologi (bentukan kata), dan sintaksis (susunan kalimat).
a. Struktur Kalimat Baku
• Mengandung unsur Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Keterangan (K).
• Menggunakan susunan yang logis dan efektif.
Contoh:
• Tidak baku: Mahasiswa kemarin ke kampus datang.
• Baku: Mahasiswa datang ke kampus kemarin.
b. Penggunaan Ejaan dan Tanda Baca
• Gunakan huruf kapital untuk nama diri, awal kalimat, dan nama Tuhan.
→ Contoh: Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
• Gunakan tanda baca dengan benar: titik (.), koma (,), titik dua (:), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).
c. Bentuk Kata yang Tepat
• Gunakan imbuhan (afiks) sesuai fungsi dan maknanya.
→ Mengerjakan (kata kerja), bukan pekerjakan (yang salah konteks).
• Hindari bentuk tidak baku: ngambil, ngerjain, pake, udah → ubah menjadi mengambil, mengerjakan, memakai, sudah.
3. Pemilihan Diksi (Kata yang Tepat)
Diksi adalah pemilihan kata yang sesuai dengan konteks, makna, dan situasi.
Pemilihan diksi yang tepat memperjelas makna dan menjaga keefektifan kalimat.
a. Prinsip Pemilihan Diksi
1. Tepat makna – kata yang digunakan harus sesuai arti sebenarnya.
→ Salah: Dia menutup mata kuliah itu dengan baik. (makna ganda)
→ Benar: Dia menyelesaikan mata kuliah itu dengan baik.
2. Tepat konteks – disesuaikan dengan situasi resmi atau nonresmi.
→ Resmi: Bapak/Ibu dosen akan memulai perkuliahan.
→ Tidak resmi: Pak dosen mau mulai ngajar nih.
3. Tepat rasa (nuansa makna) – hindari kata yang berkonotasi negatif atau kasar.
→ Salah: Dia sombong dalam berdakwah.
→ Benar: Dia kurang rendah hati dalam berdakwah.
4. Hemat dan efektif – hindari kata yang mubazir.
→ Salah: Para mahasiswa-mahasiswa mengikuti seminar.
→ Benar: Para mahasiswa mengikuti seminar.
b. Kesalahan Umum Diksi
Tidak Baku
Baku
Ngajar
Mengajar
Bikin
Membuat
Ngerjain
Mengerjakan
Pake
Memakai
Udah
Sudah
Bilang
Mengatakan
4. Hubungan Bahasa Baku dengan Dunia Akademik dan PAI
Dalam pendidikan dan dakwah Islam:
• Bahasa baku menunjukkan etika komunikasi dan keilmuan.
• Diksi yang tepat mencerminkan kecerdasan berbahasa dan moral penutur.
• Bahasa baku memperkuat pesan keagamaan agar diterima secara luas dan profesional.
5. Kesimpulan
Aspek
Penjelasan Singkat
Bahasa Baku
Ragam resmi yang digunakan dalam konteks akademik dan keagamaan.
Tata Bahasa Baku
Aturan struktur kalimat, ejaan, tanda baca, dan bentuk kata yang benar.
Pemilihan Diksi
Memilih kata yang tepat sesuai makna, konteks, dan rasa bahasa.
Manfaat dalam PAI
Meningkatkan kredibilitas, kesantunan, dan kejelasan dakwah atau tulisan ilmiah.
LEMBAR KERJA MAHASISWA (LKM)
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia (PAI)
Topik: Kaidah Bahasa Baku — Tata Bahasa Baku dan Pemilihan Diksi yang Tepat
Pertemuan ke: —
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan mampu:
1. Menjelaskan pengertian dan ciri bahasa baku.
2. Mengidentifikasi kesalahan dalam penggunaan tata bahasa dan diksi.
3. Memperbaiki kalimat tidak baku menjadi kalimat yang sesuai kaidah bahasa Indonesia.
4. Menerapkan penggunaan bahasa baku dan diksi yang tepat dalam konteks akademik dan keagamaan.
B. Petunjuk Pengerjaan
1. Bacalah setiap perintah dengan saksama.
2. Jawablah secara singkat, jelas, dan sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku.
3. Gunakan ejaan dan tanda baca dengan benar.
4. Kerjakan secara individu dan kumpulkan sesuai waktu yang ditentukan.